Tampilkan postingan dengan label Nabi Khidir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabi Khidir. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Juli 2010

Risalah Nabi Khidir Alaihissalam

Al-Khiḍr (Arab:الخضر, Khaḍr, Khaḍer, al-Khaḍir) adalah seorang nabi misterius yang dituturkan oleh Allah dalam Al-Qur'an dalam Surah Al-Kahfi ayat 65-82. Selain kisah tentang nabi Khidir yang mengajarkan tentang ilmu dan kebijaksanaan kepada Nabi Musa asal usul dan kisah lainnya tentang Nabi Khidir tidak banyak disebutkan.

Dalam bukunya yang berjudul “Mystical Dimensions of Islam”, oleh penulis Annemarie Schimmel, Khidr dianggap sebagai salah satu nabi dari empat nabi dalam kisah Islam dikenal sebagai ‘Sosok yang tetap Hidup’ atau ‘Abadi’. Tiga lainnya adalah Idris (Enoch), Ilyas (Elias), dand Isa (Jesus).[1] Khidr abadi karena ia dianggap telah meminum air kehidupan. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Khidr adalah masih sama dengan seseorang yang bernama Elia.[2] Ia juga diidentifikasikan sebagai St. George.[3] Diantara pendapat awal para cendikiawan Barat, Rodwell menyatakan bahwa “Karakter Khidr dibentuk dari Jethro.”[4]

Dalam kisah literatur Islam, satu orang bisa bermacam-macam sebutan nama dan julukan yang telah disandang oleh Khidr. Beberapa orang mengatakan Khidr adalah gelarnya; yang lainnya menganggapnya sebagai nama julukan.[5] Khidr telah disamakan dengan St. George, dikenal sebagai “Elijah versi Muslim” dan juga dihubungkan dengan Pengembara abadi.[6] Para cendikiawan telah menganggapnya dan mengkarakterkan sosoknya sebagai orang suci, nabi, pembimbing nabi yang misterius dan lain lain.

Etimologi

Al-Khiḍr secara harfiah berarti 'Seseorang yang Hijau' melambangkan kesegaran jiwa, warna hijau melambangkan kesegaran akan pengetahuan “berlarut langsung dari sumber kehidupan.” Dalam situs Encyclopædia Britannica, dikatakan bahwa Khidr memiliki telah diberikan sebuah nama, yang paling terkenal adalah Balyā bin Malkān.[7]
Biografi

Menurut Syaikh Imam M. Ma’rifatullah al-Arsy, Segitiga Bermuda merupakan tempat titik terujung di dunia ini. Ditengah kawasan itu terdapat sebuah telaga yang airnya dapat membuat siapa saja yg meminumnya menjadi panjang umur, ditempat itu pula Khidr bertahta sebagai penjaga sumber air kehidupan tersebut.[8]

Sebuah ilustrasi tentang Al-Khiḍr (kanan) dan Dzu al-Qarnayn (yang selalu dihubungkan dengan Alexander the Great), takjub dengan penglihatannya terhadap seekor ikan air asin yang kembali hidup ketika ditaruh ke dalam Air Kehidupan.

Teguran Allah kepada Musa

Kisah Musa dan Khiḍr dituturkan oleh Al-Qur'an dalam Surah Al-Kahf ayat 65-82. Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Ka'ab menceritakan bahawa beliau mendengar nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa, “Aku!” Lalu Allah menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.”

Lantas Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?” Allah pun berfirman, “Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu.” Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang shalih itu. Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut.

Musa kemudiannya menunaikan perintah Allah itu dengan membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan murid dan pembantunya, Yusya bin Nun.

Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut. Yusya tertegun memperhatikan kebesaran Allah menghidupkan semula ikan yang telah mati itu.

Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya' tertidur dan ketika terjaga, beliau lupa untuk menceritakannya kepada Musa. Mereka kemudian meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya Nabi Musa berkata kepada Yusya` “Bawalah ke mari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (Surah Al-Kahfi : 62) ”

Ibn `Abbas berkata, “Nabi Musa sebenarnya tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah supaya menemui hamba-Nya yang lebih berilmu itu.”

Yusya’ berkata kepada Nabi Musa, “Tahukah guru bahwa ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak lain yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu kembali masuk kedalam laut itu dengan cara yang amat aneh.” (Surah Al-Kahfi: 63) ”

Musa segera teringat sesuatu, bahwa mereka sebenarnya sudah menemukan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang dicarinya tersebut. Kini, kedua-dua mereka berbalik arah untuk kembali ke tempat tersebut yaitu di batu yang menjadi tempat persinggahan mereka sebelumnya, tempat bertemunya dua buah lautan. Musa berkata, “Itulah tempat yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka sebelumnya. (Surah Al-Kahfi : 64) ”

Terdapat banyak pendapat tentang tempat pertemuan Musa dengan Khidir. Ada yang mengatakan bahawa tempat tersebut adalah pertemuan Laut Romawi dengan Parsia yaitu tempat bertemunya Laut Merah dengan Samudra Hindia. Pendapat yang lain mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di tempat pertemuan antara Laut Roma dengan Lautan Atlantik. Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah tempat yang bernama Ras Muhammad yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah.

Persyaratan belajar

Setibanya mereka di tempat yang dituju, mereka melihat seorang hamba Allah yang berjubah putih bersih. Nabi Musa pun mengucapkan salam kepadanya. Khidir menjawab salamnya dan bertanya, “Dari mana datangnya kesejahteraan di bumi yang tidak mempunyai kesejahteraan? Siapakah kamu” Jawab Musa, “Aku adalah Musa.” Khidir bertanya lagi, “Musa dari Bani Isra’il?” Nabi Musa menjawab, “Ya. Aku datang menemui tuan supaya tuan dapat mengajarkan sebagian ilmu dan kebijaksanaan yang telah diajarkan kepada tuan.”

Khidir menegaskan, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku.” (Surah Al-Kahfi: 67) “Wahai Musa, sesungguhnya ilmu yang kumiliki ini ialah sebahagian daripada ilmu karunia dari Allah yang diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga memiliki ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahui.”

“Nabi Musa berkata, “Insya Allah, Tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang Tuan dalam sesuatu urusan pun.” (Surah Al-Kahfi : 69) “Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi: 70) ”

Perjalanan Khidr dan Musa

Demikianlah seterusnya Musa mengikuti Khidir dan terjadilah beberapa peristiwa yang menguji diri Musa yang telah berjanji bahawa baginda tidak akan bertanya sebab sesuatu tindakan diambil oleh Nabi Khidir. Setiap tindakan Nabi Khidir a.s. itu dianggap aneh dan membuat Nabi Musa terperanjat.

Kejadian yang pertama adalah saat Nabi Khidir menghancurkan perahu yang ditumpangi mereka bersama. Nabi Musa tidak kuasa untuk menahan hatinya untuk bertanya kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir memperingatkan janji Nabi Musa, dan akhirnya Nabi Musa meminta maaf karena kalancangannya mengingkari janjinya untuk tidak bertanya terhadap setiap tindakan Nabi Khidir.

Selanjutnya setelah mereka sampai di suatu daratan, Nabi Khidir membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya. Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi Khidir tersebut membuat Nabi Musa tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir kembali mengingatkan janji Nabi Musa, dan beliau diberi kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Khidir, jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan bersama Nabi Khidir.

Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu wilayah perumahan. Mereka kelelahan dan hendak meminta bantuan kepada penduduk sekitar. Namun sikap penduduk sekitar tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir malah menyuruh Nabi Musa untuk bersama-samanya memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak di daerah tersebut. Nabi Musa tidak kuasa kembali untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir ini yang membantu memperbaiki tembok rumah setelah penduduk menzalimi mereka. Akhirnya Nabi Khidir menegaskan pada Nabi Musa bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan perjalannya bersama dengan Nabi Khidir.

Selanjutnya Nabi Khidir menjelaskan mengapa beliau melakukan hal-hal yang membuat Nabi Musa bertanya. Kejadian pertama adalah Nabi Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya.

Kejadian yang kedua, Nabi Khidir menjelaskan bahwa beliau membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya.

Kejadian yang ketiga (terakhir), Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Di dalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Dipercaya tempat tersebut berada di negeri Antakya, Turki.

Akhirnya Nabi Musa as. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah dikerjakan Nabi Khidir. Akhirya mengerti pula Nabi Musa dan merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang hamba Allah yang shalih yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu ladunni. Ilmu ini diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Khidir yang bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasihat dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa dan Nabi Musa menerima nasihat tersebut dengan penuh rasa gembira.

Saat mereka didalam perahu yang ditumpangi, datanglah seekor burung lalu hinggap di ujung perahu itu. Burung itu meneguk air dengan paruhnya, lalu Nabi Khidir berkata, “Ilmuku dan ilmumu tidak berbanding dengan ilmu Allah, Ilmu Allah tidak akan pernah berkurang seperti air laut ini karena diteguk sedikit airnya oleh burung ini.”

Sebelum berpisah, Khidir berpesan kepada Musa: “Jadilah kamu seorang yang tersenyum dan bukannya orang yang tertawa. Teruskanlah berdakwah dan janganlah berjalan tanpa tujuan. Janganlah pula apabila kamu melakukan kekhilafan, berputus asa dengan kekhilafan yang telah dilakukan itu. Menangislah disebabkan kekhilafan yang kamu lakukan, wahai Ibnu `Imran.”

Hikmah kisah Khidir

Dari kisah Khidir ini kita dapat mengambil pelajaran penting. Diantaranya adalah Ilmu merupakan karunia Allah SWT, tidak ada seorang manusia pun yang boleh mengklaim bahwa dirinya lebih berilmu dibanding yang lainnya. Hal ini dikarenakan ada ilmu yang merupakan anugrah dari Allah SWT yang diberikan kepada seseorang tanpa harus mempelajarinya (Ilmu Ladunni, yaitu ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba Allah yang shalih dan terpilih)

Hikmah yang kedua adalah kita perlu bersabar dan tidak terburu-buru untuk mendapatkan kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang dialami. Hikmah ketiga adalah setiap murid harus memelihara adab dengan gurunya. Setiap murid harus bersedia mendengar penjelasan seorang guru dari awal hingga akhir sebelum nantinya dapat bertindak diluar perintah dari guru. Kisah Nabi Khidir ini juga menunjukan bahwa Islam memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada guru.

Catatan kaki

  1. ^ Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam, (Chapel Hill: University of North Carolina Press. 1975), 202.
  2. ^ “Muslim version of Elijah” George K. Anderson. The Legend of the Wandering Jew (Providence: Brown University Press. 1965), 409; Exhaustive material on Khidr’s resemblance with Elijah is presented in Friedlaenders “Khidr” in the Encyclopedia of Religion and Ethics (New York: Charles Scribner’s Sons, 1915), 693-95.
  3. ^ Peter L. Wilson, “The Green Man: The Trickster Figure in Sufism”, in Gnosis Magazine 1991, 23.
  4. ^ On Rodwell, see W.M. Thackston Jr.. The Tales of the Prophets of al-Kisai /(Boston: Twayne Publishers, 1978), xxiv.
  5. ^ Alexander H. Krappe. The Science of Folklore (New York: Barnes and Noble Inc., 1930), 103.
  6. ^ However, he refers to the Wandering Jew as Ahasver. See Haim Schwarzbaum. Biblical and Extra-Biblical Legends, 17.
  7. ^ al-Khidr disitus Encyclopædia Britannica
  8. ^ Misteri segitiga bermuda versi Islam
Referensi

Lihat pula

Pranala luar

Sabtu, 17 Juli 2010

Nabi Khidir, Sebuah Tinjauan Menurut Al Qur'an Dan Hadits

Sebagaimama kita ketahui, kisah-kisah Nabi Khidir adalah kisah yang penuh diliputi misteri dan keberadaan beliau sendiri mengundang banyak kontroversi sehingga mendorong rasa ingin tahu sebagian dari kita untuk mencari kebenarannya. Ada yang menyatakan Nabi Khidir masih hidup, adapula yang menyatakan Khidir sekarang berdiam di sebuah pulau, ada pula yang menyatakan bahwa setiap musim haji Nabi Khidir rutin mengunjungi padang Arafah. Tapi entah Khidir siapa dan Khidir yang mana. Yang jelas begitulah khurafat dan takhayyul berkembang di tengah masyarakat kita. Anehnya banyak pula orang-orang yang sangat mempercayai cerita-cerita tersebut.

Semua ini berpangkal dari kesalahpahaman mereka tentang hakekat Nabi Khidir. Terlebih lagi orang-orang ekstrim dari kalangan pengikut tarekat dan tasawwuf yang membumbui berbagai macam dongeng dan cerita bohong tentang Khidir. Sebagian di antara mereka, ada yang mengaku telah bertemu dengan Khidir, berbicara dengannya dan mendapat wasiat dan ilham darinya. Misalnya di tanah air kita ini, ada sebagian orang yang mengaku telah bertemu dengan Khidir dan mengambil bacaan-bacaan shalawat, wirid-wirid dan dzikir dari Khidir secara langsung, tanpa perantara, atau melalui mimpi. Bahkan ada pula yang mengaku dialah Nabi Khidir -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Semua ini adalah keyakinan batil!!

Mengenai hidup atau wafatnya Khidir, orang-orang berselisih. Ada yang menyatakan dia masih hidup. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa dia telah lama meninggal berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah. Ini merupakan pendapat para Ahli Hadits. Karena, tidak ada satupun nash yang shahih, baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat dijadikan pegangan bahwa Khidir masih hidup. Bahkan banyak dalil yang menyatakan ia telah meninggal.

Jika kita mengadakan riset ilmiah, maka kita akan mendapatkan Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa Nabi Khidhir telah meninggal dunia.

Al-Allamah Ibnul Jauziy-rahimahullah- berkata, “Dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Khidir sudah tidak ada di dunia adalah empat perkara; Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ (kesepakatan) ulama’ muhaqqiqin, dan dalil aqliy”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 69)]

Di antaranya dalil-dalil itu:

Allah -Ta’ala- berfirman,

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُو

“Kami tidak menjadikan kehidupan abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal”. (QS.Al-Anbiya`: 34)

Imam Abul Faraj Abdur Rahman Ibnul Jauzy-rahimahullah- berkata, “Khidhir, jika dia itu seorang manusia, maka sungguh ia telah masuk dalam keumuman (ayat) ini tanpa ada keraguan. Seorang tidak boleh mengkhususkannya dari keumuman itu, kecuali dengan dalil yang shahih”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334), cet. Maktabah Al-Ma’arif]

Kemudian Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir-rahimahullah- menguatkan ucapan Ibnul Jauziy tadi seraya berkata, “Asalnya memang tidak boleh mengkhususkannya sampai dalil telah nyata. Sementara tidak disebutkan adanya dalil yang mengkhususkannya dari seorang yang ma’shum yang wajib diterima”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334), cet. Maktabah Al-Ma’arif ]

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا ءَاتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ ءَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab,“Kami mengakui”. Allah berfirman, “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Al-Imran: 81)

Al-Hafizh Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Abbas-radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata saat menafsirkan ayat ini, “Allah tidak mengutus seorang nabi di antara para nabi, kecuali Dia mengambil perjanjian padanya. Jika Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam- sedang nabi itu hidup-, maka ia (nabi itu) betul-betul harus beriman kepada beliau, dan menolongnya”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (1/565)]

Jika Khidir masih hidup, tentunya ia tidak boleh menunda-nunda keimanannya kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Ia harus mengikuti Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, berjihad bersamanya dan menyampaikan dakwah beliau. Ini merupakan perjanjian Allah kepada seluruh para nabi dan rasul sebagaimana yang tersebut dalam QS. Al-Imran ayat 81 di atas.

Ini menunjukkan kepada kita bahwa wajib bagi seorang nabi dan rasul untuk menolong dan beriman kepada Rasulullah Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bahkan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- menegaskan bahwa andaikan Nabi Musa -’alaihis salam-, yang jauh lebih mulia dari Nabi Khidir masih hidup, maka ia harus mengikuti Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam- .

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَوْ أَنَّ مُوْسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِيْ

“Andaikan Musa hidup, tentunya tidak mungkin baginya, kecuali harus mengikutiku”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/387), Ad-Darimiy dalam As-Sunan (1/115), Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (5/2), Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-Ilm (2/42), dan lainnya. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (1589)]

Sudah dimaklumi, tidak ada satu pun riwayat shahih ataupun hasan -yang dapat membuat jiwa tenang- menyebutkan bahwa Khidir pernah bertemu dengan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pula pernah ikut bersama Rasulullah dalam berbagai peperangan.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوْسَةٍ الْيَوْمَ تَأْتِي عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ وَهِيَ حَيَّةٌ يَوْمَئِذٍ

“Tidak ada satu jiwa pun yang hidup pada hari ini telah lewat 100 tahun, sedang ia hidup pada hari itu”. [HR. Muslim dalam Shahih- nya (4/1966)]

Allamah Ibnu Baththal-rahimahullah- berkata menerangkan makna hadits ini, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya memaksudkan bahwa dalam jangka waktu ini suatu generasi telah punah”. [Lihat Fathul Bari (1/256) karya Al-Hafizh Ibnu Hajar]

Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy-rahimahullah- berkata dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (11/41), “Sesungguhnya hadits ini termasuk dalil yang memutuskan tentang kematian Nabi Khidir sekarang”.

Andaikan Nabi Khidir masih hidup, tentu ia akan datang kepada Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk menyatakan keislamannya dan akan menolong beliau dalam berdakwah dan berperang membela Islam. Tidak mungkin ada seorang Nabi pun yang masih hidup, lantas tidak datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk berbai’at, menyatakan keislamannya, dan berjihad bersama beliau.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

اَللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكَ هَذِهِ الْعِصَابَةُ لاَ تُعْبَدْ فِيْ اْلأَرْضِ

“Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Jihad, Bab: Al-Imdad bil Mala’ikah fi Ghazwah Badr (3/1383)]

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harraniy-rahimahullah- berkata ketika ditanya tentang hadits di atas, “Andaikan Khidir masih hidup, maka wajib baginya untuk datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan berjihad di hadapannya, serta belajar dari beliau (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-). Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda dalam perang Badar, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”. Pasukan kaum muslimin waktu itu sebanyak 313 personil. Telah dikenal nama mereka, nama orang tua, dan qabilah mereka. Lantas dimanakah Khidir pada saat itu?” [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 68)]

Adapun dalil-dalil berupa hadits-hadits marfu’, dan mauquf yang menyebutkan tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini, maka hadits-hadits itu lemah, bahkan palsu, tidak bisa dijadikan hujjah dan dalil dalam menetapkan hukum, apalagi keyakinan (aqidah).

Al-Imam Ibrahim bin Ishaq Al-Harbiy -rahimahullah- berkata, “Tidak ada yang menyebarkan berita-berita seperti ini (yakni tentang hidupnya Khidir) di antara manusia, kecuali setan”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/199) dan Ruh Al-Ma’aniy (15/321) karya Al-Alusiy]

Ibnul Munadiy berkata,“Aku telah mengadakan riset tentang hidupnya Khidir, apakah ia masih ada ataukah tidak, maka tiba-tiba kebanyakan orang-orang bodoh tertipu bahwa ia masih hidup karena hadits-hadits (lemah) yang dirwayatkan dalam hal tersebut”. [Lihat Az-Zahr (hal. 38)]

Ibnul Jauziy setelah membawakan beberapa hadits tentang hidupnya Nabi Khidir berkata, “Hadits-hadits ini adalah batil”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/195-197)]

Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata, “Hadits-hadits yang disebutkan di dalamnya tentang Khidir, dan hidupnya, semuanya adalah dusta (palsu). Tidak shahih satu hadits pun tentang hidupnya Nabi Khidir”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 67)]

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata setelah membawakan hadits dan kisah tentang hidupnya Khidir, “Riwayat-riwayat, dan hikayat-hikayat ini merupakan sandaran orang yang berpendapat tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini. Semua hadits-hadits yang marfu’ ini adalah dha’if jiddan (lemah sekali), tidak bisa dijadikan hujjah dalam urusan agama”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334)]

Abul Khaththab Ibnu Dihyah Al-Andalusiy-rahimahullah- berkata, “Tidak terbukti tentang pertemuan Nabi Khidir bersama dengan seorang nabi, kecuali bersama Musa, sebagaimana Allah -Ta’ala- telah kisahkan tentang berita keduanya. Semua berita tentang hidupnya tak ada yang shahih sedikitpun berdasarkan kesepakatan para penukil hadits (ahli hadits). Hal itu hanyalah disebutkan oleh orang yang meriwayatkan berita tersebut, dan tidak menyebutkan penyakitnya, entah karena ia tidak mengetahuinya, atau karena jelasnya penyakit berita tersebut di sisi para ahli hadits”. [Lihat Az-Zahr An-Nadhir (hal. 32)]

Inilah beberapa dalil, dan komentar para ulama, semuanya menyatakan Nabi Khidir tidak hidup lagi atau sudah meninggal. Nyatalah kebatilan orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Khidir untuk menerima ajaran di luar ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bagaimana mungkin Khidir mengajarkan suatu ajaran di luar syari’at Nabi Muhammad -Shalallahu ‘alaihi wasallam-??! Itu pasti bukan Nabi Khidir, tapi setan yang ingin menyesatkan manusia.

Jumat, 16 Juli 2010

Kisah-Kisah Nabi Khidir Alaihissalam

Berikut adalah kisah-kisah Nabi Khidir yang dipetik dari berbagai sumber:

  • Nabi Khidir Takziah kepada keluarga Rasulullah SAW

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Tafsir: “Bercerita kepadaku ayahku, yang didengarnya dari Abdul Aziz Al-Ausiy, dari Ali bin Abu Ali, dari Jakfar bin Muhammad bin Ali bin Husain, dari ayahnya, katanya Ali bin Abi Talib berkata: “Ketika wafat Rasulullah SAW, datanglah ucapan takziah. Datang kepada mereka (keluarga Nabi SAW) orang yang memberi takziah. Mereka mendengar orang memberi takziah tetapi tidak melihat orangnya. Bunyi suara itu begini: ‘Assalamu Alaikum Ahlal Bait Warahmatullahi Wabarakatuh. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Bahwasanya disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah bagi setiap musibah, bagi Allah ada pengganti setiap ada yang binasa, begitu juga menemukan bagi setiap yang hilang. Kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya mengharap. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah yang diberi ganjaran pahala.”

Berkata Jakfar: “Bercerita kepadaku ayahku bahawa Ali bin Abi Talib ada berkata: “Tahukah kamu siapa ini? Ini adalah suara Nabi Khidir.” Berkata Muhammad bin Jakfar: “Adalah ayahku, yaitu Jakfar bin Muhammad, menyebutkan tentang riwayat dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ali bin Abi Talib, bahawa datang ke rumahnya satu rombongan kaum Quraisy kemudian dia berkata kepada mereka: “Maukah kalian aku ceritakan tentang Abul Qasim (Muhammad SAW)?” Kaum Quraisy itu menjawab: “Tentu saja mau.”

Ali bin Abi Talib berkata: “Jibril Alaihis salam pernah berkata kepada Rasulullah SAW: “Selamat sejahtera ke atasmu, wahai Ahmad. Inilah akhir watanku (negeriku) di bumi. Sesungguhnya hanya engkaulah hajatku di dunia.” Maka tatkala Rasulullah SAW wafat, datanglah orang yang memberi takziah, mereka mendengar suaranya tetapi tidak melihat wujudnya. Orang yang memberi takziah itu berkata: “Selamat sejahtera ke atasmu wahai ahli bait. Sesungguhnya pada agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, dan bagi Allah ada yang menggantikan setiap ada yang binasa. Maka kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya mengharap. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah yang diberi ganjaran pahala.” Mendengar yang demikian Ali bin Abi Talib berkata: “Tahukah kamu siapa yang datang itu? Itu adalah Khidir.”

Berkata Saif bin Amr At-Tamimi dalam kitabnya Ar-Riddah, yang diterimanya dari Sa’id bin Abdullah, dari Ibnu Umar mengatakan: “Ketika wafat Rasulullah SAW, datanglah Abu Bakar ke rumah Rasulullah. Ketika beliau melihat jenazah Rasulullah SAW, beliau berkata: “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun.” Kemudian beliau bersama sahabat-sahabat yang lain melaksanakan shalat jenazah bagi Rasulullah SAW. Saat shalat itu mereka mendengar suara ghaib. Selesai shalat dan mereka semuanya dalam diam, terdengar suara orang di pintu mengatakan: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai Ahli Bait. Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Hanyasanya disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya pada agama Allah ada pengganti setiap ada yang binasa dan ada kelepasan dari segala yang menakutkan. Kepada Allah-lah kamu mengharap dan dengan-Nya berpegang. Orang yang diberi musibah akan diberi ganjaran. Dengarlah itu dan hentikan kamu menangis itu."

Mereka melihat ke arah datangnya suara itu tetapi tidak melihat seorangpun di sana. Kerana sedihnya mereka menangis lagi. Tiba-tiba terdengar lagi suara yang lain yang mengatakan: “Wahai Ahli Bait, ingatlah kepada Allah dan pujilah Dia dalam segala hal, maka jadilah kamu golongan orang mukhlisin. Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, dan ada pengganti setiap ada yang binasa. Maka kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya taat. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah orang yang diberi pahala.” Mendengar itu berkata Abu Bakar: “Ini adalah Khidir dan Ilyas. Mereka datang atas kematian Rasulullah Salallahu'alaihi Wassalam.”.”

Berkata Ibnu Abu Dunia, yang didengarnya dari Kamil bin Talhah, dari Ubad bin Abdul Samad, dari Anas bin Malik, mengatakan: “Sewaktu Rasulullah SAW meninggal dunia, berkumpullah sahabat-sahabat beliau di sekeliling jenazahnya menangisi kematian beliau. Tiba-tiba datang kepada mereka seorang lelaki yang bertubuh tinggi memakai kain panjang. Dia masuk melalui pintu depan dalam keadaan menangis. Lalu lelaki itu menghadap kepada sahabat-sahabat dan berkata: “Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, ada pengganti setiap ada yang hilang. Bersabarlah kamu kerana sesungguhnya orang yang diberi musibah itu akan diberi ganjaran.”

Kemudian lelaki itu pun raib dari pandangan mata para sahabat. Abu Bakar berkata: “Datang ke sini lelaki yang memberi takziah.” Dan mereka pun melihat ke kiri dan kanan tetapi lelaki itu sudah tidak tampak lagi. Abu Bakar berkata: “Barangkali yang datang itu adalah Khidir, saudara nabi kita. Beliau datang memberi takziah atas kematian Rasulullah Salallahu'alaihi Wassalam.”.”

Sudah kita simak ucapan-ucapan takziah "ghaib" yang hampir sama kata-katanya di atas. Ada yang mengatakan hadis ini daif. Ubad yang meriwayatkan hadis ini tidak diiktiraf oleh Imam Bukhari.

Berkata Ibnu Syahin dalam kitabnya Al-Jana’iz: “Bercerita kepada kami Ibnu Abu Daud, dari Ahmad bin Amr, dari Ibnu Wahab, dari Muhammad bin Ajlan, dari Muhammad bin Mukandar, berkata: “Pernah pada suatu hari Umar bin Khattab menyembahyangkan jenazah, tiba-tiba beliau mendengar suara di belakangnya: “Ahai, janganlah mendahului kami mengerjakan shalat jenazah ini. Tunggulah sampai sempurna dan cukup orang di belakang baru memulakan takbir.” Kemudian lelaki itu berkata lagi: “Jika engkau siksa dia ya, Allah, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada-Mu. Tetapi jika Engkau berjknan mengampuninya, maka sesungguhnya ia betul-betul mengharap pengampunan dari-Mu.” Umar bersama sahabat-sahabat yang lain sempat juga melihat lelaki itu. Tatkala jenazah itu sudah dikuburkan, lelaki itu masih ikut meratakan tanah sambil berkata: “Beruntunglah engkau wahai orang yang dikuburkan di sini.”

Umar bin Khattab berkata: “Tolong bawa ke sini lelaki yang mengatakan itu supaya kita tanya tentang shlatnya dan maksud kata-katanya itu.” Namun tba-tiba saja lelaki itu sudah menghilang dari pandangan mereka. Mereka mencari ke arah datangnya suara tadi dan melihat bekas telapak kakinya yang cukup besar. Umar bin Khattab berkata: “Barangkali yang datang itu adalah Khidir yang pernah diceritakan oleh Nabi kita Muhammad Salallahu'alaihi Wassalam.”

Ada juga yang mengatakan hadis ini tidak sahih. Kata Ibnu al-Jauzi hadis ini majhul (tidak dikenal) dan dalam sanadnya ada yang terputus di antara Ibnul Mukandar dengan Umar.

  • Nabi Khidir Menegur Pedagang

Berkata Ibnu Abu Dunia: “Bercerita kepadaku ayahku, yang didengarnya dari Ali bin Syaqiq, dari Ibnu Al-Mubarak, dari Umar bin Muhammad bin Al-Mukandar, berkata: “Ada seorang pedagang yang banyak memuji-muji barangnya dan banyak bersumpah untuk meyakinkan orang lain (pembeli). Tiba-tiba datang kepadanya seorang tua dan berkata: “Wahai pedagang, juallah barangmu tetapi jangan banyak bersumpah!” Namun pedagang itu masih tetap bersumpah sehingga orang tua itu berkata lagi: “Wahai pedagang, berniagalah secara jujur dan jangan banyak bersumpah!” Bahkan orang tua itu berkata lagi: “Berniagalah dengan cara yang wajar saja.” Pedagang itu berkata: “Inilah yang patut saya lakukan.” Kemudian orang tua itu berkata: “Utamakanlah kejujuran walaupun berat melakukannya dan tinggalkan berbohong walaupun ia akan membawa keuntungan.”

Akhirnya peniaga itu berkata: “Kalau begitu tuliskanlah semua apa yang engkau sebutkan tadi." Orang tua itu berkata: “Jika telah ditakdirkan sesuatu, maka itulah yang terjadi." Menurut mereka yang datang menegur itu adalah Nabi Khidir.

Diriwayatkan oleh Abu Amr, dari Yahya bin Abi Talib, dari Ali bin Ashim, dari Abdullah, berkata: “Pernah Ibnu Umar duduk-duduk di satu tempat, sedangkan seorang lelaki (tidak berapa jauh dari tempatnya) sudah mulai membuka dagangannya. Pedagang itu banyak bersumpah untuk menarik pembeli. Tiba-tiba datang kepadanya seorang lelaki dan berkata: “Takutlah kepada Allah dan jangan berbohong. Hendaklah engkau berkata jujur walaupun berat melakukannya dan jauhilah berdusta walaupun ia membawa manfaat. Dan jangan tambah-tambah dari cerita orang lain (apa yang ada).”

Ibnu Umar yang mendengar teguran orang tua itu berkata kepada peniaga itu: “Ikuti dia dan minta agar menuliskan apa yang disebutkannya tadi.” Pedagang itu pergi mengikutinya dan meminta supaya menuliskan apa yang disebutkannya tadi. Tetapi orang tua itu hanya berkata: “Jika sesuatu itu sudah ditentukan Allah, maka itulah yang terjadi.” Kemudian orang tua itu pun tiba-tiba saja raib. Pedagang itu kembali menjumpai Ibnu Umar dan menyampaikan apa yang baru saja dialaminya. Maka Ibnu Umar pun berkata: “Yang datang itu adalah Nabi Khidir.”

Tetapi kata Ibnu Al-Jauzi, hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Ahsim daif. Bahkan katanya Ali bin Ashim itu lemah ingatannya.

Ada juga riwayat yang hampir sama dengan ini menyebutkan: “Ada dua orang lelaki yang berjualan tidak berapa jauh dari Abdullah bin Umar. Salah seorang dari peniaga itu banyak bersumpah untuk melariskan barang-barang dagangannya. Saat sedang bersemangat mempromosikan barang-barang dagangannya, tiba-tiba datang seorang lelaki yang berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan jangan banyak bersumpah. Sesungguhnya tidak akan bertambah rezekimu jika engkau banyak bersumpah. Dan sebaliknya, tidak akan mengurangkan kepada rezekimu jika engkau tidak bersumpah. Oleh itu katakanlah yang wajar-wajar saja.” Pedagang itu menjawab: “Inilah yang saya anggap wajar.”

Lelaki tua itu mengulang nasihatnya lagi. Dan saat hendak melangkah pergi, dia berkata lagi: “Ketahuilah bahawa termasuk daripada iman ialah mengutamakan kejujuran walaupun berat melaksanakannya dan meninggalkan kembohongan walaupun dianggap membawa keuntungan.”

Setelah memberi nasihat atau teguran itu, lelaki tua tadi pun pergi. Ibnu Umar berkata kepada peniaga itu: “Kejar dia, dan minta supaya dituliskannya apa-apa yang disebutkannya tadi!” Pedagang itu pun pergi mengejarnya dan berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah, tuliskanlah apa yang engkau sebutkan tadi supaya tuan dirahmati Allah.” Lelaki itu tidak ada menulisnya tetapi mengulangi apa yang sudah disebutkannya tadi. Jadi, menurut Ibnu Umar yang datang itu adalah Nabi Khidir.

  • Nabi Khidir Dan Abu Mahjan

Diriwayatkan oleh Saif dalam kitab Al-Futuh, bahawa satu jemaah berada bersama Saad bin Abi Waqqas, maka mereka melihat Abu Mahjan berperang, maka yang meriwayatkan ini pun menceritakan kisah Abu Mahjan secara panjang lebar. Dari kesimpulan cerita-cerita mereka mengatakan bahwa Nabi Khidir masih hidup pada zaman itu.

Berkata Abu Abdullah bin Battah: “Bercerita kepada kami Syuaib bin Ahmad, yang didengarnya dari ayahnya, dari Ibrahim, bin Abdul Hamid, dari Ghalib bin Abdullah, dari Hasan Basri berkata: “Seorang lelaki berfaham Ahli Sunnah Waljamaah berlainan pendapat dan berhujah dengan seorang lelaki bukan Ahli Sunnah. Mereka berdebat mengkaji masalah qadar. Mereka berdebat di tengah-tengah perjalanan. Masing-masing mereka mempertahankan pendapatnya dan saling berbantah dengan suara yang keras tetapi akhirnya sepakat siapa yang duluan datang ke tempat mereka berhujah itu akan diangkat sebagai pemutus di antara mereka.

Tidak lama kemudian, muncullah seorang lelaki memikul bungkusan dalam keadaan rambut dan pakaian yang penuh debu, dan jalannya pun menunjukkan bahwa ia sudah sangat keletihan. Mereka berkata kepada lelaki itu: “Tadi kami berdebat tentang qadar dan masing-masing di antara kami memberikan hujah dan dalilnya tetapi tidak tahu siapa di antara kami yang benar. Kami sudah sama-sama setuju bahawa siapa orang yang mula-mula datang ke tempat ini akan kami angkat sebagai hakim. Maka sekarang kami minta tolong kepada tuan untuk menghakimi kami.”

Lelaki itu meletakkan bungkusannya kemudian duduk. Setelah istirahat sebentar dan nafasnya sudah mulai tenang, dia pun berkata: “Jika demikian, duduklah kalian di sini.” Kemudian lelaki itu menghakimi mereka secara bijaksana.” Menurut Hasan Basri lelaki yang mengadili mereka itu adalah Nabi Khidir.

  • Nabi Khidir Memberi Pelajaran

Diriwayatkan oleh Hammad bin Umar, dari A-Sara bin Khalid, dari Jakfar bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya Ali bin Husain, katanya pembantu mereka pergi berlayar menaiki kapal. Ketika dia hendak merapat ke pantai tiba-tiba dia melihat di sana duduk seorang lelaki yang sedang menerima hidangan makanan dari langit. Makanan itu diletakkan di hadapannya kemudian dia pun memakannya. Setelah dia kenyang, makanan itu diangkat kembali ke langit. Pembantu yang merasa tkjub itu memberanikan dirinya mendekati orang itu sambil bertanya kepadanya: “Hamba Allah yang manakah engkau ini?” Lelaki itu berkata: “Aku adalah Khidir yang barangkali engkau sudah pernah mendengar nama itu.” Pembantu itu bertanya lagi: “Dengan (amalan) apakah didatangkan kepadamu makanan dan minuman ini?” Lelaki itu menjawab: “Dengan nama Allah yang Maha Agung.”

  • Nabi Khidir Dan Petani Mesir

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Al-Zuhdi, yang diterima dari Hammad bin Usamah, dari Mas’ar, dari Maan bin Abdul Rahman, dari Aun bin Abdullah, dari Utbah, dari Ibnu Mas’ud, mengatakan: “Ada seorang lelaki di Mesir sedang bercocok tanam di kebunnya. Ketika itu dia sedang gelisah sambil tunduk mengerjakan ladangnya. Ketika dia mengangkat kepalanya, tiba-tiba di melihat di hadapannya berdiri seorang lelaki yang sedang memperhatikan apa yang dilakukannya dan sambil memperhatikan wajahnya. Lelaki itu berkata: “Kuperhatikan dari tadi engkau murung dan gelisah, mengapa begitu?” Lelaki yang bercocok tanam itu berkata: “Tidak ada apa-apa.”

Kemudian lelaki yang datang tadi berkata: “Dunia adalah kesenangan yang sedikit dan masanya amat terbatas, dan kesenangan itu dinikmati oleh orang baik dan orang jahat. Sedangkan akhirat kesenangan yang hakiki dan abadi.”

Mendengar itu lelaki yang bercocok tanam itu berkata: “Sebenarnya saya sedih memikirkan keadaan kaum muslimin sekarang ini." Lelaki yang datang itu berkata: “Allah Subhana Wara'ala akan membebaskanmu dari kesusahan kerana engkau perduli atas nasib kaum Muslimin. Cuba tanya siapakah orangnya yang meminta kepada Allah kemudian Allah tidak memenuhi permintaannya, siapakah orang yang doanya tidak terkabul? Siapakah yang berserah diri kepada Allah lalu Allah tidak melindunginya?” Mus’ir berkata: “Menurut mereka orang yang memberi pengajaran itu adalah Khidir.”

  • Nabi Khidir Datang Ke Baitul Haram

Berkata Abu Naim dalam kitab Al-Hilyah: “Bercerita kepada kami Ubaidullah bin Muhammad, dari Muhammad bin Yahya, dari Ahmad bin Mansur, dari Ahmad bin Jamil, katanya berkata Sufyan bin Ainah: “Pada waktu saya tawaf di Baitullah, tiba-tiba saya melihat seorang yang sedang memimpin satu kumpulan manusia mengerjakan tawaf. Saya bersama orang yang berdiri di sekeliling memperhatikan lelaki itu. Ada di antara mereka yang berkata: “Lelaki yang memimpin kumpulan yang tawaf itu nampaknya seorang yang ikhlas dan berilmu.” Kami amati dia bahkan kami ikuti ke mana dia pergi. Lelaki itu pergi ke maqam kemudian mengerjakan shalat di situ. Selesai solat dia menadahkan kedua tangannya dan berdoa. Setelah itu dia melihat ke arah kami dan berkata: “Tahukah kalian apa kata Tuhanmu?”

Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhanmu berkata: “Aku adalah raja. Kamu mendakwa diri kamu sebagai raja.” Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah kiblat, menadahkan tangannya sebagai tanda berdoa kemudian berpaling kepada kami dan bertanya lagi: “Tahukah kamu apa kata Tuhanmu?” Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhanmu berkata: “Akulah yang hidup dan tidak akan mati untuk selamanya. Kamu mendakwa diri kamu hidup dan tidak akan mati."

Setelah itu dia menghadap ke arah kiblat dan mendoa. Selesai berdoa berpaling kepada kami sambil berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhanmu?” Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhanmu berkata: “Akulah Tuhan yang apabila menghendaki sesuatu akan terjadilah ia. Ada di antara kamu yang mengaku apabila menginginkan sesuatu maka akan ada dia.”

Kata Ibnu Ainah lagi: “Kemudian dia pun pergi dan kami tidak melihatnya lagi. Setelah itu saya berjumpa dengan Sufyan As-Tsauri dan dia berkata: “Barangkali lelaki itu adalah Khidir atau wali Allah yang lain.”

  • Nabi Khidir Dan Istana Para Shuhada

Ada diceritakan ketika Hasan Basri berceramah di hadapan jemaahnya, tiba-tiba datang seseorang yang matanya kehijau-hijauan. Melihat yang demikian Hasan Basri bertanya kepadanya: “Apakah memang begini engkau dilahirkan oleh ibumu atau ini sebagai tanda?” Orang yang baru datang itu berkata: “Apakah engkau mengenalku wahai Abu Said?” Hasan Basri berkata: “Siapa engkau sebenarnya?” Lelaki itu memperkenalkan dirinya sehingga jelas bagi semua jemaah yang ada di tempat itu. Hasan Basri berkata lagi: “Tolong ceritakan bagaimana kisahmu.”

Lelaki itu berkata: “Pernah pada suatu hari dahulu aku mengangkut semua barang-barangku ke dalam kapal. Aku pun berlayar menuju Cina. Ketika berlayar mengharungi lautan yang dalam, tiba-tiba angin bertiup kencang. Terjadi ombak yang begitu hebat dan kapal yang kami naiki pun terbalik. Rupanya ajalku belum tiba, aku dibawa oleh ombak ke pantai. Aku terdampar di satu pulau yang tidak didiami oleh manusia. Empat bulan lamanya aku terasing di pulau itu. Makanan tidak ada kecuali daun-daunan dan batang kayu yang lapuk. Bahkan minuman pun tidak ada kecuali air mata yang sentiasa mengalir kerana sedihnya.

Tidak sanggup menahankan penderitaan hidup seperti itu aku pun bermaksud berenang menyeberangi lautan luas. Ketika berjalan mendekati laut yang ombaknya melambai-lambai itu, tiba-tiba di hadapanku sudah ada istana yang pintunya seperti perak. Kubuka pintunya, dan di dalam terdapat kamr-kamar dan beberapa ruang tamu yang lengkap dengan perhiasan. Di dalam istana itu juga ada beberapa buah peti yang dihiasi dengan permata. Rasa ingin tahuku membuatku mendekati peti-peti itu. Kemudian terciumlah semerbak harum. dari peti-prti itu Aku buka perlahan-lahan, dan di dalammya ada mayat yang masih segar seperti orang tidur. Aku tutup kembali peti itu kemudian aku keluar dari istana itu.

Begitu turun dari tangga istana, aku berjumpa dengan dua orang pemuda gagah dan nampak ramah. Mereka bertanya siapa aku dan aku pun memperkenalkan diri serta menceritakan serba sedikit tentang mengapa aku bisa sampai di sana. Mereka berkata: “Pergilah ke pohon itu. Di bawah pohon itu ada taman yang indah. Dan di situ nanti akan ada orang tua yang sedang mengerjakan shalat. Dia orang baik. Ceritakan tentang diri dan keadaanmu kepadanya, niscaya dia akan menunjukkan jalan bagimu.”

Aku pun pergi ke pohon yang mereka tunjukkan itu. Memang benar, di bawahnya ada seorang lelaki tua sedang duduk berzikir. Aku ucapkan salam kepadanya kemudian dia pun menjawabnya. Dia tanya siapa diriku kemudian aku pun mejelaskan siapa diriku. Dia tanya mengapa aku sampai di tempat itu, kemudian aku ceritakan semuanya.

Lelaki itu berdiam diri sejenak seakan-akan sedang merenungkan seluruh perjalanan hidupku. Lalu dia bertanya lagi di mana kampungku, dan ini juga kujelaskan dengan sejelas-jelasnya. Kemudian lelaki itu berkata: “Kalau begitu, duduklah dahulu.” Aku pun kemudian duduk memperhatikan lelaki itu melanjutkan zikirnya. Tidak lama kemudian datanglah tumpukan awan mendekati beliau.

Anehnya, awan itu dapat berkata-kata seperti manusia dan menyapa: “Assalamu Alaikum ya, wali Allah.” Beliau menjawab salam awan yang kemudian berhenti di hadapannya itu.

Beliau bertanya kepada awan itu: “Ke mana engkau hendak pergi?” Awan itu menjawab: “Aku akan pergi ke kampung ini dan kampung ini.” Beliau berkata, "Kalau begitu, pergilah." Kemudian awan itu pun pergi seperti ditiup angin. Datang lagi awan-awan yang lain dan kesemuanya berhenti di depan beliau. Beliau bertanya lagi kepada setiap awan yang datang hingga akhirnya: “Ke mana engkau akan pergi?” Segumpalan awan menjawab: “Saya akan pergi ke Basrah.” Beliau berkata: “Kalau begitu, turunlah dahulu.” Awan itu turun dan berhenti di hadapan beliau. Beliau berkata lagi: “Bawa orang ini ke depan rumahnya dengan selamat!”

Nampaknya awan itu menuruti permintaannya dan siap untuk segera mengangkutku. Sebelum berangkat, aku bertanya kepada orang tua itu: “Demi Tuhan yang telah memuliakan engkau, tolong ceritakan kepadaku istana apakah itu tadi, siapa dua orang pemuda itu dan siapakah engkau?”

Orang tua itu berkata: “Istana yang engkau lihat tadi adalah tempat para syuhada yang gugur di laut. Orang-orang yang mati syahid di laut telah diangkut oleh malaikat. Mayat para syuhada itu mereka masukkan ke dalam peti yang dihiasi dengan emas dan permata, disembur dengan wangi-wangian dan mereka masukkan (simpan) di dalam istana seperti yang engkau lihat tadi. Dua orang pemuda tampan yang engkau jumpai tadi adalah malaikat yang diperintah Allah untuk mengurus mereka pada waktu pagi dan petang. Sedangkan aku ini adalah Khidir. Dahulu Aku memohon kepada Allah supaya mengumpulkanku dengan umat nabimu, Muhammad Salallahu'alaihi Wassalam.”

Lelaki bermata hijau itu melanjutkan ceritanya; “Sewaktu terbang bersama awan, aku terperanjat kerana melihat sesuatu yang mengejutkan. Dan itulah sebabnya mataku seperti yang engkau lihat ini.”

Mendengar verita itu Hasan Basri berkata: “Sungguh mengagumkan pengalaman hidupmu.”

  • Nabi Khidir Dan Seorang Pelarian

Menurut sebuah riwayat, Raja Sulaiman bin Abdul Malik telah memerintahkan menterinya untuk menangkap seorang lelaki yang sangat dicari untuk dibunuh. Sebaik mengetahui perintah raja itu, lelaki yang dicari-cari tadi segera melarikan diri. Lelaki itu lari ke kampung lain. Di kampung itu ternyata ia juga mendengar berita hangat bahwa orang dengan ciri-ciri persis seperti dirinya sedang dicari dan diperintahkan untuk ditangkap dan dibunuh. Dia semakin ketakutan, kemudian lari lagi ke kampung lain. Di kampung ini pun rupanya sudah gempar berita tentang dirinya sehingga ia lari lagi ke kampung lain. Begitulah yang terus menerus ia dengar setiap kali keluar dari satu kampung dan masuk ke kampung lainnya. Akhirnya dia memutuskan untuk lari ke negeri di luar kekuasaan Sulaiman bin Abdul Malik.

Maka sampailah ia di suatu kawasan padang pasir yang amat luas, tempat yang sama sekali tadak ditumbuhi pepohonan, tidak ada air dan makanan apapun. Bahkan nampaknya tempat itu adalah tanah yang tidak pernah diinjak oleh manusia.

Namun di sana ia melihat seorang lelaki tengah mengerjakan shalat. Diam-diam ia memperhatikan sekeliling orang yang yang sedang shalat itu, dan tidak melihat adanya tunggangan, tidak ada perbekalan dan sebagainya. Ia sangat heran melihat lelaki yang berada seorang diri di tempat itu. Dia ingin mendekati lelaki itu tetapi segera membatalkan niatnya kerana rasa takut. Hatinya bertanya-tanya: “Ini manusiakah, atau bangsa jin?”

Karena tak kuasa menahan rasa penasaran, akhirnya ia memberanikan diri untuk mendekati lelaki itu. Lelaki itu memandang ke arahnya lalu berkata: “Apakah mungkin Sulaiman bin Abdul Malik yang membuatmu ketakutan sehingga tersesat ke tempat ini?” Ia segera menjawab: “Betul tuan!" Lelaki itu pun berkata: “Mengapa tidak engkau buat perisai bagi dirimu?” Ia bertanya: “Perisai apa maksudnya?” Lelaki itu menjawab: “Bacalah zikir seperti ini (yang maksudnya) adalah:

Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Esa yang tidak ada Tuhan selain-Nya.
Maha Suci (Tuhan) Yang Maha terdahulu dan tidak ada yang menjadikan-Nya.
Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Kekal dan tidak akan binasa.
Maha Suci (Tuhan) Yang Dia setiap hari dalam kesibukan.
Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.
Maha Suci (Tuhan) yang telah menciptakan apa yang dilihat dan tidak terlihat
Maha Suci (Tuhan) yang mengajari segala sesuatu tanpa pengajaran secara langsung.

Dalam zikir di atas ada disebutkan bahawa Allah setiap hari, atau setiap waktu, berada dalam kesibukan. Tentang ini sebenarnya dapat ditemui di dalam Al Qur'an, yaitu ayat yang menyebutkan: "Setiap waktu Dia (Allah) dalam kesibukan." (Al-Rahman: 29)

Maksudnya Allah SWT sentiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rezeki kepada semua makhluk dan sebagainya.

Orang itu berkata: “Bacalah zikir tadi.” Lelaki itu pun mulai menghafal zikir tersebut dan membacanya. Tiba-tiba saja lelaki itu raib dan tidak tampak lagi. Tetapi berkat amalan itu, perasaan takutnya hilang, dan tiba-tiba saja ia ingin pulang kampung untuk menjumpai keluarganya, bahkan ia ingin menghadap Sulaiman bin Abdul Malik.

Pada suatu hari di mana rakyat jelata dibolehkan berjumpa dengan Sulaiman bin Abdul Malik, ia pun masuk ke istananya. Begitu masuk ke ruang tamunya, Sulaiman bin Abdul Malik memandanginya seakan ada sesuatu yang sangat ingin dikatakannya. Sulaiman mendekatinya kemudian berkata: “Engkau telah menyihirku!” Ia menjawab dengan takzim, “Wahai Amirul Mukminin, saya tidak mengguna-gunai tuan. Saya tidak pernah belajar ilmu sihir, dan saya tidak menyihir tuan.”

Sulaiman bin Abdul Malik menerangkan apa yang ada dalam hatinya secara jujur: “Dulu aku begitu marah melihat engkau. Aku sudah bertekad akan membunuh engkau. Rasanya kerajaanku ini tidak sempurna kalau tidak membunuh engkau. Tetapi setelah melihat wajahmu tadi, aku begitu sayang kepada engkau. Sekarang ceritakan secara jujur apa yang engkau amalkan itu." Maka ia pun menyebutkan zikir tadi. Mendengar yang demikian Sulaiman bin Abdul Malik berkata: “Demi Allah, Khidirlah yang mengajarkan amalan itu kepadamu.” Akhirnya raja memaafkan segala kesalahannya dan menyayanginya.

  • Amalan yang paling disukai Allah

Dari Raja’, beliau berkata: “Pernah pada suatu hari ketika saya berada di samping Sulaiman bin Abdul Malik, tiba-tiba datang seorang lelaki tampan. Lelaki itu memberi salam kemudian kami jawab. Lalu berkatalah ia: “Wahai Raja’, sesungguhnya telah diuji keimananmu ketika engkau dekat dengan lelaki ini (Raja Sulaiman). Jika engkau dekat dengan dia, maka engkau akan celaka. Wahai Raja’, engkau harus senantiasa berbuat baik dan menolong orang-orang lemah. Ketahuilah, barangsiapa yang mempunyai kedudukan di kerajaan sultan, lalu dia mengangkat hajat orang-orang lemah yang mereka tidak sanggup menyampaikannya, maka orang yang mengangkat atau menyampaikan itu akan menjumpai Allah pada hari kiamat dalam keadaan kedua tumitnya tetap ketika berhisab. Ketahuilah wahai Raja’ bahwa varabfsiapa yang menunaikan hajat saudaranya sesama muslim maka Allah akan menunaikan hajatnya. Dan ketahuilah pula, wahai Raja’ bahawa amalan yang paling disukai Allah adalah amalan menyenangkan hati orang mukmin.”

Setelah memberikan pengajaran yang bernas itu, tiba-tiba saja lelaki itu raib. Banyak yang berpendapat bahawa yang datang memberikan pelajaran itu ialah Nabi Khidir.

  • Nabi Khidir Dan Mas’ab bin Thabit bin Abdullah bin Zubair

Mas’ab bin Thabit bin Abdullah bin Zubair adalah seorang yang rajin beribadat. Dia selalu berpuasa dan mengerjakan solat tidak kurang dari seribu rakaat sehari semalam. Suati hari ia berkata: “Pernah ketika aku berada di dalam masjid sedangkan semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing, tiba-tiba datang seorang lelaki yang tidak kukenal. Lelaki itu menyandarkan badannya ke dinding masjid sambil berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahawa aku berpuasa sejak kelmarin. Sampai sekarang pun aku masih berpuasa. Aku tidak mendapatkan makanan dan minuman dan aku menginginkan al-Tharid (nama makanan). Berikanlah kepadaku ya, Allah, makanan dari sisi Engkau.”

“Entah dari mana asalnya, tiba-tiba aku melihat seorang pelayan datang membawa hidangan. Pelayan itu nampaknya tidak seperti orang biasa. Orangnya tampan, bersih dan pakaiannya sangat rapi. Dia berjalan ke arah lelaki yang berdoa tadi sambil meletakkan hidangan itu di hadapannya. Lelaki itu pun membetulkan duduknya menghadap hidangan itu. Sebelum mencicipi makanan itu dia memandang saya dan mengajak saya supaya ikut makan bersamanya. Hatiku berkata: “Syukur dia mengajakku makan bersama.” Ketika itu aku sudah yakin bahwa makanan itu tentulah didatangkan dari surga sehingga aku pun sangat ingin mencicipinya. Baru sedikit kumakan, tahulah aku bahawa makanan itu bukan makanan yang biasa di dunia ini.

Sebenarnya aku merasa sugkan dan malu kepada orang yang tidak kukenal itu. Karenyanya meski belum kenyang aku sudah mengucapkan terima kasih dan pergi ke tempat duduk tadi. Tapi aku tetap memperhatikan lelaki itu. Setelah dia selesai makan, datang lagi pelayan tadi mengambil sisa hidangan itu dan pergi lagi ke arah dari mana sebelumnya ia muncul. Lelaki yang baru selesai makan itu pun berdiri dan nampak akan pergi. Aku kejar dia kerana rasa ingin tahu siapa sebenarnya dia. Tetapi sayangnya, tiba-tiba saja dia menghilang dan aku tidak tahu ke mana perginya. Besar kemungkinan lelaki itu adalah Nabi Khidir.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, dari Ibrahim bin Abdullah bin Al-Mughirah, dari Abdullah, berkata: “Telah bercerita kepadaku ayahku bahawa pengurus sebuah masjid berkata kepada Walid bin Abdul Malik: “Sesungguhnya Nabi Khidir sembahyang setiap malam di masjid.”